Pemerintah Indonesia telah mencanangkan Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara melalui Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006 sebagai akselerasi pencapaian target pemberantasan buta aksara secara cepat, tepat, dan berkesinambungan. Gerakan ini melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), sehingga diharapkan menjadi gerakan yang mengakar dalam masyarakat.
Gerakan penanganan buta aksara ini dilakukan melalui program pendidikan keaksaraan. Program pendidikan keaksaraan adalah salah satu bentuk layanan pendidikan non-formal bagi masyarakat yang belum dan ingin memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, serta kemampuan untuk beradaptasi dan bertahan hidup (survive) dalam kehidupan yang terus berubah.
Untuk mendukung pencapaian Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara Direktorat Pendidikan Masyarakat Dirjen PLS DEPDIKNAS telah menerbitkan Standar Kompetensi Keaksaraan (SKK) bagi warga belajar Pendidikan Keaksaraan. Aspek-aspek yang dijadikan standar kompetensi tersebut meliputi kompetensi membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
SKK merupakan support system yang dirancang untuk menunjang keberhasilan dan dapat dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan dalam masyarakat. Adanya pedoman, tolok ukur keberhasilan dan penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan bagi para penyelenggara dan tutor akan terpandu proses belajar warga belajar dan terukur hasil belajarnya secara jelas dan standar.
SKK pendidikan keaksaraan merupakan tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan keaksaraan di semua lokasi program, baik untuk proses pembelajarannya maupun pengukuran hasil belajarnya. SKK pada dasarnya berfungsi sebagai patokan, sedangkan bahan belajar dan proses belajarnya terbuka kemungkinan untuk dirancang oleh penyelenggara dan tutor sesuai kebutuhan setempat (lokal).
Peningkatan mutu layanan program pendidikan keaksaraan secara terus menerus harus didukung baik dari segi kebijakan selaku pemerintah serta peningkatan pembelajaran yang dilakukan penyelenggara dilapangan. Salah satu di antaranya adalah pembelajaran keaksaraan yang memanfaatkan media gambar, yaitu gambar-gambar yang relevan yang sesuai dengan kriteria lingkungan warga belajar dan dijadikan stimulan awal untuk membangkitkan interaksi belajar warga belajar. Dalam pemanfaatan media gambar tersebut, diharapkan mampu membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bervariasi sehingga warga belajar dapat cepat dan mudah menerima pembelajaran yang diberikan oleh tutor atau pendidik. Media gambar diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dalam kompetensi membaca, menulis, berhitung dan berkomunikasi. keadaan saat ini warga belajar keaksaraan dalam menguasai calistungkom bisa sampai enam bulan. oleh karena itu dengan menggunakan media gambar ini dapat mempercepat kemampuan calistungkom warga belajar keaksaraaan.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi antara pendidik dan peserta didik oleh karena itu media gambar dijadikan media awal dalam proses komunikasi antara pendidik dan peserta didik agar terjadi pembelajaran yang efektif. Dengan demikian pembelajaran diharapkan lebih baik lagi karena menggunakan media gambar yang bisa dijadikan stimulus bagi warga belajar.
Ada tiga hal penting yang berpengaruh dalam pembelajaran melalui media gambar, yaitu 1) gambar yang sesuai dengan lingkungan warga belajar, 2) gambar yang menarik perhatian warga belajar, 3) gambar yang memudahkan pemahaman bagi warga belajar. Jika ketiga hal ini terpenuhi maka proses belajar akan lebih dinamis dan efektif, sesuai dengan SKK.
Pembelajaran keaksaraan yang memanfaatkan media bergambar selama ini secara praktik di lapangan belum banyak dikembangkan dan diterapkan. Pembelajaran pendidikan keaksaraan saat ini masih bersifat konvensional dan kurang didukung oleh media-media pembelajaran yang efektif. Sedangkan sasaran pendidikan keaksaraan sebagian besar adalah orang dewasa, yang mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan usia anak-anak. Ciri-ciri belajar orang dewasa diantaranya: motivasi belajar yang rendah, kondisi fisik yang mudah lelah, dan mudah menyerah serta tidak percaya diri. Oleh karena itu, agar pembelajaran keaksaraan menjadi lebih menarik dan membuat warga belajar lebih aktif maka digunakan media gambar yang menarik yang sesuai dengan kebutuhan warga belajar. Jika ditinjau dari sisi kemenarikan dan kemudahan pemahaman, media belajar bergambar akan berpengaruh secara signifikan terhadap kegiatan membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, terutama bagi warga belajar buta aksara pada tahap awal.
Pembelajaran pendidikan keaksaraan dengan memanfaatkan media bergambar dapat dijadikan alternatif bagi para penyelenggara, tutor, dan stakeholders pendidikan keaksaraan lainnya dalam menyelenggarakan program pendidikan keaksaraan di lapangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar